Profil Kelas Industri SMK PGRI Subang

A. Latar Belakang

Persaingan tenaga kerja pada era global khususnya untuk tingkat menengah akan semakin kompetitif dan sulit untuk diprediksi. Hal ini mengingat tuntutan kualitas yang diminta industri semakin tinggi disamping jumlah pencari kerja yang semakin banyak. Untuk memenangkan persaingan global ini diperlukan lulusan yang unggul, berkarakter dan inovatif. Tantangan terhadap tuntutan akan kualitas tenaga lulusan SMK yang unggul, berkarakter dan inovatif seyogyanya sudah harus diantisipasi sejak dini agar lulusan SMK dapat berkompetisi di era global.
Pada sisi lain, berkaitan dengan desentralisasi pengelolaan pendidikan, orientasi pengembangan pembelajaran di SMK diharapkan agar siswa dapat mengenal, tertarik, dan mampu mengembangkan potensi ekonomi daerahnya. Pembelajaran di SMK direlevansikan dengan penerapan misi pendidikan dalam pembangunan masyarakat desa atau kota. Dalam Renstra Kemendikbud. RI 2015-2019, bahwa: “Pendidikan kejuruan tidak hanya adaptif tetapi juga harus antisipatif”. Ketika mereka lulus, manakala tidak ada peluang kerja di tempat-tempat kerja maka mereka tidak menganggur, mereka tetap cerdas melihat peluang dan kreatif (memiliki banyak ide dan cara) yang berbasis pada pengembangan potensi daerah yang mereka tempati. Pendidikan kejuruan berupaya dapat mendukung perekonomian yang cenderung mencapai tingkat kesempatan kerja penuh, tenaga kerja yang berasal dari lulusan SMK sepenuhnya digunakan. Pembelajaran SMK membekali siswa agar memiliki karakter kewirausahaan, kreatif, dan memahami potensi ekonomi daerahnya, sehingga mereka mampu memanfa’atkan potensi daerahnya dalam mewujudkan kemakmuran.
SMK PGRI Subang Kab. SUBANG memiliki faktor-faktor eksternal yang cenderung memiliki efek positif pada pencapaian pandangan tersebut di atas, antara lain :
a.  Kondisi sosial politik Kab. SUBANG yang stabil dan aman
b.  Adanya peluang kerja sama dengan Institusi dan DU/DI.
c. Dukungan dari Pemerintah Pusat (PSMK), PPPPTKBMTI, Dinas Pendidikan dan Instansi terkait berjalan dengan baik.
d.  Peran Alumni yang sangat tinggi terhadap penyaluran tenaga kerja.

Namun demikian masih banyak permasalahan dihadapi oleh SMK PGRI Subang Kab. SUBANG diantaranya :
a.  Kontribusi orang tua siswa yang masih rendah khususnya dipendanaan,
b. Ketersediaan proposal proposal pada perpustakaan sekolah masih kurang, terutama referensi proposal yang mengakomodasi perkembangan iptek terbaru,
c.  Peralatan Praktik siswa sebagian sudah usang dan memerlukan revitalisasi peralatan,
d.  Kurangnya Pengalaman magang para Pendidik di DU/DI,
e.  Sarana atau alat praktik siswa di SMK tertinggal dengan perkembangan teknologi di industri.
f.  Guru kewirausahaan dan guru produktif di sekolah bukan praktisi usaha ekonomi, kurang memiliki karakter dan budaya wirausaha.
g.  Guru mengalami kesulitan dalam menemukan ide ide dalam pengembangan produk.
h.  Keterbatasan waktu bagi guru dalam kegiatan kelas industri.
i.  Pembelajaran di SMK kurang memiliki hubungan dengan pemanfaatan dan pengembangan potensi ekonomi di wilayah sekitarnya.
j.   Ketidakterpaduan antara pembelajaran kewirausahaan dan pembelajaran produktif.
k.  Kurangnya wahana untuk memadukan antara pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis.

Work based competence adalah kompetensi yang memadukan teori dan praktek sesuai dengan kondisi nyata dengan tempat bekerja. Untuk merealisasikan hal ini perlu terjalin hubungan yang harmonis antara SMK dan dunia usaha/industri (link and match) sehingga materi pembelajaran produktif harus relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia industri. Dengan adanya hubungan erat ini diharapkan tidak ada celah kesenjangan antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan dunia usaha dan dunia industri.
Untuk merealisasikan agar SMK dapat menghasilkan lulusan yang unggul sesuai dengan tuntutan dunia usaha/dunia industri diperlukan adanya wadah yang dapat menjembatani kebutuhan dunia industri / dunia usaha sesuai dengan harapan SMK. Wadah dimaksud adalah adanya kelas yang dapat mengakomodir tuntutan industri dan harapan SMK. Wadah yang dimaksud adalah adanya kelas industrii yang para instrukturnya berasal dari dunia usaha/dunia industri atau guru yang mendapatkan pengetahuan/keterampilan terkini dan kurikulumnya sudah merupakan hasil sinkronisasi dan siswanya secara langsung melakukan praktek kerja pada tempat kerja yang sesungguhnya.

 

B.  Maksud dan Tujuan

Maksud pengembangan SMK kelas industri adalah wadah pembelajaran berwirausaha pada sektor industri kreatif yang memadukan pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis yang bersumber dari program pembelajaran produktif, pembelajaran kewirausahaan dan potensi industri kreatif (pelaku industri kreatif).
Tujuan pengembangan SMK kelas Industri di SMK PGRI Subang adalah pengembangan intensi atau minat siswa berwirausaha, pengembangan keterampilan atau potensi siswa berwirausaha dan pengembangan kemampuan siswa dalam pengembangan produk, pengembangan bakat atau potensi siswa, diantaranya adalah indikasi potensi siswa berwirausaha, ketrampilan siswa membuat rencana usaha, dan keterampilan siswa dalam menjual produk, pengembangan kemampuan siswa dalam pengembangan produk meliputi keterampilan siswa membuat desain produk, ketrampilan siswa membuat prototip produk, keterampilan siswa merakit atau membuat produk, sikap siswa dalam pengembangan produk dan kemampuan siswa menyampaikan ide ide kreatif dalam pengembangan produk baru.

C.  Pengurus Kelas Industri SMK PGRI Subang

Penanggung Jawab : Dra. Hj. Sri Mulyati, M.M.Pd.
Koordinator : Iman Rohimat, S.E
Sekretaris Umum : Willy Yanuar Saputra
Bendahara Umum : Edah Jubaedah
     
Tim Pelaksana Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan
Ketua : Dedi Kurniawan, S.Kom.
Bendahara : Ita Purnamasari, S.Pd.
Anggota : 1. Asep Awaludin Fajari, S.Pd.
    2. Bagus Dian Riswardhana, S.T.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *